Produksi Padi di Sumut Turun 0,13 Persen

Petani memanen padi. Berdasarkan data BPS, luas lahan padi tahun ini berkurang. (f:ist/mistar)

Medan, MISTAR.ID

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara (Sumut), luas lahan panen padi tahun ini yang diperkirakan 400,3 ribu hektar mengalami penurunan sebanyak 12,84 ribu hektar atau 3,11 persen dibanding 2019 sebesar 413,14 ribu hektar.

Adapun luas panen tertinggi 2020 terjadi pada Februari sebesar 57 ribu hektar. Sementara luas panen terendah terjadi pada November, yaitu sebesar 14 ribu hektar.

Hal ini dikatakan Kabid Statistik Produksi BPS Sumut Dwi Prawoto. Ia mengatakan, produksi padi tahun ini diperkirakan sebesar 2,07 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) mengalami penurunan sebanyak 2,62 ribu ton atau 0,13 persen dibanding 2019 yang sebesar 2,08 juta ton GKG.

Baca Juga:Harga Gabah Anjlok, Petani Enggan Panen Padi

“Jika potensi produksi padi pada 2020 dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras pada 2020 diperkirakan sebesar 1,18 juta ton, mengalami penurunan sebanyak 1,49 ribu ton atau 0,13 persen,” jelasnya, Minggu (22/11/20).

Sejak 2018, BPS telah bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Kementerian ATR/BPN), Badan Informasi dan Geospasial (BIG), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melakukan penyempurnaan penghitungan luas panen dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA).

KSA ini memanfaatkan teknologi citra satelit yang berasal dari LAPAN dan digunakan BIG untuk mendeliniasi peta lahan baku sawah yang divalidasi dan ditetapkan oleh Kementerian ATR/BPN untuk mengestimasi luas panen padi.

Baca Juga:Harga Sewa Lahan Tinggi, Petani Padi Di Siantar Mengeluh

Berdasarkan hasil Survei KSA, tidak terjadi pergeseran puncak panen padi pada 2020 dibandingkan 2019. Puncak panen padi pada 2020 terjadi pada bulan Februari, sementara puncak panen pada 2019 juga terjadi pada bulan Februari. “Nah, untuk realisasi panen padi sepanjang Januari hingga September 2020 sebesar 337,45 ribu hektar, atau mengalami penurunan sekitar 7,9 ribu hektar (2,29 persen) dibandingkan 2019 yang sebesar 345,39 ribu hektar,” katanya.

Sementara itu, potensi panen sepanjang Oktober hingga Desember 2020 sebesar 62,82 ribu hektar. Dengan demikian, total potensi luas panen padi pada 2020 mencapai 400,3 ribu hektar, atau mengalami penurunan sekitar 12,84 ribu hektar (3,11 persen) dibandingkan 2019 yang sebesar 413,41 ribu hektar.

Sementara itu, menurut Kepala Bidang Statistik Distribusi, Dinar Butar-butar mengatakan selama Oktober 2020 yang dilakukan di 13 kabupaten terhadap 80 observasi berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah masih didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 50 observasi (62,50%), diikuti Gabah Kering Giling (GKG) sebanyak 19 observasi (23,75%), dan Gabah Kualitas Rendah sebanyak 11 observasi (13,75%).

Baca Juga:Waw! Kejutan Pertanian Padi dari Batu Bara, Pupuk Organik Hasilkan 8,5 Ton/Hektar

“Di tingkat petani pada Oktober 2020, harga tertinggi senilai Rp5.800 per kg berasal dari gabah kualitas GKP varietas PP dan Ciherang, gabah kualitas GKG varietas Ciherang dan Gloria di Kabupaten Serdang Bedagai. Sedangkan harga terendah senilai Rp4.200,00 per kg berasal dari Gabah Kualitas GKP varietas Ciherang di Kabupaten Simalungun,” terangnya.

Sedangkan di tingkat penggilingan pada Oktober, harga tertinggi senilai Rp5.900 per kg berasal dari GKG varietas Ciherang dan Gloria di Kabupaten Serdang Bedagai. Sedangkan harga terendah senilai Rp4.250 per kg berasal dari GKP varietas Ciherang di Kabupaten Simalungun. (anita/hm12)