Harga Gabah Anjlok, Petani Enggan Panen Padi

Padi yang belum dipanen karena harga turun. (f:billy/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Musim panen raya padi tahun ini di Kota Pematangsiantar petani dihantui oleh anjloknya harga gabah di tingkat petani dalam dua pekan terakhir. Harga gabah saat ini Rp4.000 per kilogram turun sebelumnya Rp4.500 per kilogram untuk jenis padi serang.

Jadiaman Manurung (50) petani di Kecamatan Siantar Marimbun mengatakan, pihaknya sangat terpukul dan enggan memanen hasil dengan turunnya harga gabah di tingkat petani. Menurutnya, untuk varietas serang padi dapat dihargai Rp5.000 per kilogram.

“Kami menilai terlalu murah harga gabah saat ini. Kami tidak tahu apa penyebabnya ini memang musim panen kali ini kebetulan serentak di Kota Pematangsiantar,” ujar Jadiaman ditemui Mistar, Minggu (18/10/20) siang.

Baca juga: Petani Padi Di Kecamatan Siantar Marimbun Panen Raya

Ia menilai, untuk mendongkrak kesulitan petani dalam mengatasi harga pemerintah diminta fokus menguatkan peran koperasi tani. Hal ini agar petani dapat bantuan modal ketika harga anjlok pada musim tanam berikutnya dan menyerap penjualan padi.

Menurutnya, pemerintah hanya mendorong kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan), yang sebenarnya tidak memiliki sisi kelembagaan ekonomi untuk membeli atau menyerap hasil produksi tani.

“Jelas kalau ada koperasi setidaknya bisa membantu membeli gabah gabah ini ketika panen besar. Kemudian mendistribusikan ke luar area sehingga harga beli gabah stabil,” ujarnya.

Selain itu, petani meminta pemerintah Kota Pematangsiantar meningkatkan kemampuan Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam menyerap gabah petani.

“Selama ini terdengar gabah sampai busuk di gudang Bulog. Inilah harusnya Bulog mampu membeli dan mampu memasarkan sehingga pemerintah dan petani sama sama untung,” ujarnya.

Sementara di Kecamatan Siantar Sitalasari petani padi mengeluhkan kendala harga gabah yang sama. L boru Simanjuntak (50) petani di Kelurahan Gurilla Kecamatan Siantar Sitalasari mengatakan, akibatnya petani menunda waktu panen.

“Banyak yang belum panen, karena gabah turun harga. Pekerja panen (parkomben) tidak mau manen karena ongkos tidak sesuai jika diakumulasikan dengan gaji pekerja, sehingga mereka menunggu harga naik lagi,” ujar L boru Simanjuntak ditemui Mistar.

Petani berharap pemerintah mengeluarkan regulasi agar harga gabah ditingkat petani tidak terlalu rendah yang dapat berdampak petani merugi dan malas berproduksi kembali.(billy/hm09)