Siantar Terlempar dari 10 Besar Kota Toleran, Kelompok Cipayung Angkat Bicara

(f;Ist/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Pada tahun 2018 lalu, Kota Pematangsiantar menempati urutan ketiga kota toleran yang ada di Indonesia. Namun di tahun 2020, terlempar dari posisi 10 besar.

Organisasi Kelompok Cipayung yang ada di Kota Pematangsiantar, yakni GMKI, PMKRI, GMNI, dan PMII menyoroti Kota Pematangsiantar yang terlempar dari 10 besar sebagai Kota Tertoleran di Indonesia.

Ketua GMKI Pematangsiantar – Simalungun, Juwita Panjaitan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga nilai-nilai toleransi, tidak terprovokasi isu-isu yang mampu memperkeruh suasana bermasyarakat.

Baca Juga:Terlempar Dari 10 Besar Kota Toleransi se Indonesia, Ini Tanggapan Kesbang Pol Pematangsiantar

Atas kemerosotan peringkat itu, Juwita juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kekondusifan dan keharmonisan sebagai bagian dari tanggung jawab masyarakat itu sendiri.

Selanjutnya, Liharman Sipayung selaku Ketua Presidium PMKRI Pematangsiantar menyampaikan bahwa untuk mengembalikan label Kota Pematangsiantar sebagai kota toleran diperlukan tindakan tindakan konkret bersama pemerintah guna meningkatkan situasi yang damai dan rukun.

“Menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai mahasiswa dan pemuda untuk menjunjung tinggi perbedaan dan toleransi. Oleh karena itu untuk menciptakan suasana yang damai dan rukun, Cipayung  tengah menggagas  upaya-upaya kampanye toleransi, sembari berharap masyarakat dapat mendukung upaya itu,” ungkapnya.

Baca Juga: Kasus Penistaan Agama, 2 Saksi Lihat Doni Membuang Sobekan Alquran di Jalan Sinabung

Sementara Ketua GMNI Pematangsiantar, Hexa Hutapea  mengungkapkan keprihatianan terhadap kemunduran prestasi itu dan menilai kemunduran tak terlepas dari tanggung jawab Pemerintah Kota (Pemkot) Pematangsiantar.

“Ini tak sekadar penurunan peringkat atau rangking, tapi bakal berdampak terhadap kondusifitas di masyarakat. Maka dari itu pemerintah harus menggandeng tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi mahasiswa, dan organisasi kepemudaan,” ungkapnya.

Sementara itu Rifky Pratama, Ketua PMII Pematangsiantar mengimbau masyarakat sebagai umat beragama tetap menjaga dan merawat, keutuhan NKRI serta kesatuan sikap toleransi dan sikap saling menghargai satu sama lain, karena masyarakat Pematangsiantar terdiri dari berbagai suku agama dan budaya.

“Marilah kita bersama merawat kota Pematangsiantar agar terhindar dari perpecahan,” ujar Rifky. Demikian rilis pers yang disampaikan Kelompok Cipayung melalui Ketua GMKI Pematangsiantar – Simalungun, Juwita Panjaitan, pada Minggu (28/2/21).

Cipayung Pematangsiantar, kata Juwita, juga mengajak seluruh elemen masyarakat Kota Pematangsiantar untuk menjaga kondusifitas, serta meminta tokoh masyarakat membangun komunikasi satu sama lain. Cipayung juga berharap agar Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar dapat membuat program yang bisa meningkatkan toleransi.(Ferry/hm13)