Ayam Dan Telur Serentak Naik, Pembeli Mengeluh

Harga ayam potong naik. (f:yetty/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Harga kebutuhan pokok seperti daging ayam dan telur perlahan naik. Harga daging ayam merangkak sedikit demi sedikit selama sebulan belakangan ini. Hingga kenaikan mencapai Rp28 ribu per kilogramnya.

“Harga daging ayam ini tak jelas, kadang harganya di bawah, tiba-tiba udah naik lagi. Bingung mau jualan seperti ini,”keluh Haryati, salah satu pelaku usaha rumah makan di Pasar Horas, Minggu (18/10/20).

Dia meminta pemerintah agar bisa mengawal harga kebutuhan pokok di pasar. Di saat kondisi pandemi ini bumi sepenuhnya segala aktivitas kembali normal. Aturan dan himbauan masih tetap berjalan di masa Covid-19 ini, sepertinya yang makan dirumah makan tidak boleh banyak.

Baca juga: Stok Bahan Pokok di Siantar Aman Hingga Akhir Tahun

“Udah harga pada naik, pembeli yang datang ke rumah makan juga dibatasi, bingung jadinya. Berdagang bukan mau cari untung,” ketus dia.

Menurut salah satu pedagang daging ayam di Pasar tradisional Dwikora Pematangsiantar, harga daging ayam kembali mahal disebabkan stok sudah mulai kosong di beberapa peternak ayam. Adapun masih kecil-kecil ayamnya.

“Kata para agen, ayam dikandang habis. Yang tersisa hanya kecil-kecil. Itupun tetap kami ambil, daripada tak ada sama sekali,”ucap Rohim sambil memperlihatkan ayam yang dijual ukurannya kecil.

Selain itu, Pantauan Mistar di sejumlah pasar juga memperlihatkan tak hanya harga daging ayam saja yang naik, tapi harga telur juga turut serta mengalami kenaikan.

Dalam beberapa hari terakhir ini, kenaikan kebutuhan pokok juga terjadi pada telur ayam ras. Mereka menyebutkan bahwa kenaikan harga mulai Rp100 – 200 per butirnya. Biasanya, ukuran normal hanya Rp1.100 menjadi Rp1.300 per butirnya.

“Udah kondisi susah, apa-apa pada naik, kayak harga telur ini. Pasalnya hampir semua orang membutuhkan telur. Inilah lauk yang gampang dan ekonomis,”ujar Lena Sinaga, ketika sedang memilih telur yang hendak dibeli.

Sudarto, penjual telur ini menyebutkan, mengalami kesulitan dalam memperoleh telur ayam akhir – akhir ini. Kesulitan itu semakin diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19, pembeli sepi.

“Kalau udah begini kondisinya, otomatis ya kami naikkan harga karena kami terima itu harganya sudah tinggi, enggak mungkin lagi kami jual rugi,”jelas dia.

Dia juga tidak pasti penyebab minimnya telur di produksi komoditas ayam petelur. Berharap Pemerintah cepat bertindak dan mengidentifikasi penyebab kenaikan harga telur ayam tersebut.

Di samping itu, pada komoditas cabe mengalamai penurunan hingga 30%. Sebelumnya, komoditas ini telah menembus harga Rp50 ribu per kilogram. Harga berbagai jenis cabai mengalami penurunan. Hal itu disebabkan ketersediaan barang sudah mulai stabil.

“Cabe merah sudah turun hingga 30% lah. Kini harganya Rp32 ribu /kg. Cabe rawit Rp20 ribu/kg, dan cabe hijau Rp18 ribu /kg. Sudah mulai banyak yang panen para petani,” Ucap B Marbun. Meskipun demikian, tambahnya, itupun tergantung kualitasnya. Selain itu, harga yang murah ternyata tak berimbas pada peningkatan penjualan. (yetty/hm09)