23.9 C
Medan
Saturday, January 29, 2022
spot_img

Pdt Jaulung Wismar Saragih, Rasul Simalungun

Masa kecilnya diwarnai lahir Tahun 1888 di Sinondang Utara, kira-kira 3 km selatan Pematang Raya, Kabupaten Simaludengan perang saudara. Perang saudara itu terjadi setelah Tuan Rondahaim, Raja di Pematang Raya, meninggal. Tuan Dolokmaraya dan Tuan Dolok Saribu melakukan pemberontakan. Kampung Sinondang diserang dan diobrak-abrik. Para budak yang selama itu sebagai tawanan ayahnya, Jalam Saragih Sumbayak, kabur.

Akibat perang saudara itu, keluarganya terpaksa mengungsi ke Simandamei, di seberang Bah Magor yaitu antara Pematang Raya dan Sinondang. Jaulung masih menetek dibawa mengungsi. Kehidupan keras dalam pengungsian telah membentuk dirinya untuk selalu mandiri dan siap melakukan pekerjaan apa saja, termasuk berladang.

Padahal, bukan kehidupan keras di ladang itu yang dipikirkan ayahnya bagi Jaulung. Sebagai orang kepercayaan Raja, sang ayah tentu berharap anaknya bisa menjadi pegawai kantor atau apa saja. Sebab, sebagai orang yang berpengaruh dan memiliki budak yang tidak hanya satu dua orang, ladang dapat dikerjakan budak-budaknya.

Namun dalam kehidupan yang keras itu ia memang telah akrab dengan ladang. Budaknya, si Jorling, adalah teman mainnya ke ladang hingga suatu hari ia merasa begitu bodoh ketika bertemu dengan seorang kawannya di ladang. Horalim kawan sebayanya, berusia sekitar 7 tahun, suatu siang berada di pohon sedang main-main.

Ia datang bersama si Jorling. Di pohon itu, Horalim melafalkan “surat sapuluh siah” atau abjad yang ke 19. “Aka, bapa, nawa, gaja, dara, mata, saya, ngala, i, u, nya”, teriak Horalim sengaja melafalkannya dengan nyaring. Nampak Horalim begitu bangga, wajahnya ceria dan penuh senyum. Jaulung bingun mendengarnya.

Jaulung bingung mendengarnya. Ia merasa asing dengan semua itu. Dipandangnya kawan mainnya itu. Tapi tak berani bertanya. Ia diam saja. Horalim tersenyum melihat kawannya diam saja. Dipikirnya, tentulah si Jaulung heran mendengar semua itu. Horalim tambah bangga. Tapi disapanya juga kawannya itu.

Saat itu, karena tidak tahu apa yang dilafalkan Horalim, Jaulung merasa dirinyalah orang yang paling bodoh. Terakhir, atas saran Horalim, Jaulung meminta ayahnya untuk mengajarinya. Namun, upaya untuk minta diajari tidak berjalan mulus. Karena ayahnya, sebelum mengajarinya, ternyata terlebih dahulu melihat waktu yang baik.

Tekadnya yang bulat untuk belajar membuat Jaulung bersabar dan bersabar. Hingga akhirnya, ayahnya bersedia memberinya pelajaran, dan menuliskan abjad Batak pada sepotong bambu. Diajarnya Jaulung membaca satu per satu. Hari demi hari pelajaran itu ditekuninya. Ayahnya pun dengan rajin mengajarinya, hingga Jaulung menguasai pelajaran menulis dan membaca bahasa Batak.

Ayahnya juga memberikan dia ilmu tentang berbagai hal yang dibutuhkan dalam kehidupan, mulai dari tentang cara bercocok tanam hingga tentang obat-obatan dan sebagainya. Ilmu tua, ilmu orang-orang tua yang menguraikan makna kehidupan dapat dengan cepat ditangkap dan dipahaminya. Bahkan, pustaha (pustaka) yang ditulis dalam pantun-pantun pun dengan cepat membaca dan mengartikannya. Ayahnya bangga.

Pelajaran terakhir yang ia terima dari ayahnya berupa mantera-mantera. Ia pelajari semuanya dengan tekun. Dalam usia yang sangat muda itu, ia telah mampu mengucapkan mantera atau manabas. Bahkan menulis dengan pisau pada bambu telah dikuasainya. Dengan tahu membaca, menulis dan mengerti tentang kehidupan masyarakat, ia telah dapat menjadi laki-laki di kampung Raya, bahkan di wilayah Simalungun.

Sebab, adat disana memang mengharuskan seorang laki-laki mengenal betul adatnya. Semua laki-laki harus belajar membaca dan menulis aksara Simalungun. Kalau ada laki-laki yang tidak menamatkan pelajaran baca tulis, dan berhenti di tengah jalan, ia harus membawa “tayan”, yaitu tempat ayam menetaskan telornya, di atas kepalanya dan berjalan melintasi losung bolon, rumah untuk menumbuk padi di tempat umum agar semua gadis melihatnya.

Gadis-gadis yang tengah menumbuk padi itupun akan menampikan berasnya ke muka laki-laki tersebut. Itulah penghinaan bagi laki-laki Simalungun yang tidak dapat melanjutkan pelajarannya dan berhenti di tengah jalan karena kebodohannya. Suatu penghinaan yang luar biasa. Akibatnya, tidak akan ada seorang gadis pun yang bersedia kawin dengannya. Sebab membaca dan menulis telah merupakan dasar bagi manusia untuk memahami makna kehidupan.

Tapi Jaulung tak bermaksud menggunakan ilmunya untuk kawin. Ia masih terlalu muda untuk itu. Ia ingin memiliki ilmu lebih dari yang dimiliki laki-laki yang dikenalnya di Simalungun. Ia ingin sekali bersekolah dan mempelajari hutuf Belanda atau huruf latin. Sebab dengan bisa menulis dan membaca huruf belanda berarti seseorang memiliki pengetahuan yang luar biasa.

Reporter: Ferry Napitupulu
Editor: Herman

Related Articles

Stay Connected

2,753FansLike
12,688FollowersFollow
20,700FollowersFollow
2,600FollowersFollow

Latest Articles

%d bloggers like this: