Jenis Sakit Kepala yang Sering Terjadi

Ilustrasi (f:cnn/mistar)

MISTAR.ID

Jenis sakit kepala yang sering terjadi begitu banyak. Namun, sebagaimana dilansir Medicine Net, International Headache Society telah merilis klasifikasi sakit kepala. Ada tiga klasifikasi yakni, primary headache, secondary headache dan cranial neuralgia, nyeri wajah dan sakit kepala lainnya.

Tiap klasifikasi ada beberapa tipe sakit kepala. Namun ada jenis sakit kepala yang paling sering terjadi sebagai berikut.

1. Sakit kepala tegang (tension headache)
Jika Anda merasakan sensasi nyeri di seluruh kepala, tanpa denyut, mungkin Anda mengalami sakit kepala tegang. Gejala lainnya bisa juga berupa nyeri atau sensitif di sekitar leher, dahi, kulit kepala dan otot bahu. Dikutip dari Healthline, siapa pun bisa mengalami sakit kepala tegang dan sakit kepala satu ini sering dipicu stres.

2. Sakit kepala klaster (cluster headache)
Jenis sakit kepala satu ini terbilang sakit kepala paling parah. Dikutip dari WebMD, sakit kepala klaster membuat Anda mengalami rasa sakit seperti ada sensasi terbakar atau menusuk di belakang juga sekitar mata.

Bahkan kelopak mata terkulai, mata memerah, pupil mengecil hingga mengeluarkan air mata.

Rasa sakit ini seperti berdenyut secara konstan. Sakit kepala klaster umumnya tidak bisa membuat orang duduk diam.

Kenapa disebut ‘klaster’?

Sakit kepala ini terjadi dalam kelompok. Anda mungkin merasakan sakit 1-3 kali sehari selama periode klaster, sekitar 2 minggu hingga 3 bulan.

Tiap serangan sakit kepala bisa berlangsung 15 menit hingga 3 jam.

3. Migrain (migrain headache)
Migrain digambarkan sebagai nyeri yang berdenyut. Migrain bisa berlangsung selama 4 jam hingga 3 hari, biasanya terjadi 1-4 kali dalam sebulan.

Seiring dengan nyeri berdenyut di kepala, timbul gejala lain seperti kepekaan terhadap cahaya, suara atau bau, mual, muntah, dan sakit perut.

Anak pun bisa disebut mengalami migrain dengan ciri wajah pucat, pusing, penglihatan kabur, demam dan sakit perut.

Sejumlah kecil migrain pada anak-anak bisa termasuk masalah pencernaan seperti muntah.

4. Sakit kepala alergi atau sinus (allergy or sinus headache)
Sakit kepala sinus, di mana Anda akan merasakan sakit yang dalam dan terus menerus di tulang pipi, dahi, atau pangkal hidung.

Jenis sakit kepala ini sering terjadi saat Anda mengalami peradangan sinus.

Selain sakit kepala, ada gejala lain yang terjadi bersamaan seperti, pilek, telinga terasa penuh, demam, dan wajah bengkak.

Kotoran pada hidung akan berwarna kuning atau hijau sebagai tanda infeksi sinus. Berbeda dengan sakit kepala klaster atau migrain, cairan hidung akan berwarna bening.

5. Sakit kepala hormon (hormone headache)
Anda bisa mengalami sakit kepala saat menstruasi, kehamilan juga menopause atau disebut dengan sakit kepala hormon.

Sakit kepala hormon disebabkan oleh perubahan aktivitas hormon.

Perubahan hormon pun bisa terjadi karena konsumsi pil KB dan terapi hormon. Jika sakit kepala terjadi 2 hari sebelum menstruasi atau 3 hari pertama setelah menstruasi, ini disebut migrain menstruasi.

6. Sakit kepala kafein (caffeine headache)
Kafein mempengaruhi aliran darah ke otak. Terlalu banyak asupan kafein bisa mengakibatkan sakit kepala.

Namun, saat kafein dikurangi, orang bisa mengalami cold turkey yang juga memicu sakit kepala.

Ketika otak terbiasa terekspos kafein, stimulan setiap hari, Anda mungkin mengalami sakit kepala jika absen sehari saja. Mungkin kafein telah mengubah kimiawi otak.

7. Sakit kepala akibat aktivitas (exertion headache)
Periode aktivitas fisik intens bisa mengarah ke sakit kepala. Angkat beban, lari bahkan hubungan seks bisa memicu sakit kepala setelahnya.

Aktivitas fisik intens akan meningkatkan aliran darah ke kepala sehingga timbul rasa sakit berdenyut di kedua sisi kepala. Namun, sakit kepala ini tidak akan berlangsung lama.

8. Sakit kepala hipertensi (hypertension headache)
Tekanan darah yang begitu tinggi akan mengakibatkan sakit kepala. Sakit kepala akan terasa di kedua sisi kepala ditambah sensasi berdenyut.

Ini pun diikuti perubahan penglihatan, mati rasa atau kesemutan, mimisan, nyeri dada, atau sesak napas. Sakit kepala biasanya akan hilang saat tekanan darah kembali normal.

9. Sakit kepala rebound (rebound headache)
Sakit kepala akibat kelebihan penggunaan obat disebut sakit kepala rebound. Sakit kepala ini akan terasa seperti sakit kepala tegang dan bisa lebih menyakitkan seperti migrain.

Umumnya orang rentan mengalami sakit kepala rebound karena kerap mengonsumsi obat pereda nyeri.

Penggunaan berlebih pada asetaminofen, ibuprofen, aspirin dan naproxen lebih dari 15 hari selama sebulan sangat berisiko menimbulkan sakit kepala.

Selain obat-obatan ini, sakit kepala rebound juga bisa timbul karena konsumsi obat-obatan yang mengandung kafein.

10. Sakit kepala pasca-trauma (post-traumatic headache)
Setelah mengalami cedera kepala, biasanya ini akan timbul sakit kepala pasca-trauma. Sakit kepala ini terasa seperti migrain atau tipe sakit kepala tegang. Sakit kepala pasca-trauma biasanya berlangsung 6-12 bulan setelah cedera kepala terjadi. Sakit kepala sangat mungkin berkembang menjadi sakit kronis. (cnn/hm06)