Pembuat Kue di Toba, Berpacu di Tengah Pandemi Covid-19

Tien Siahaan dengan aneka kue hasil masakannya, siap dipasarkan.(foto:james/mistar)

Toba, MISTAR.ID

Tak dapat dipungkiri, dampak bencana non alam pandemi Covid-19 merAngsek seluruh sendi-sendi perekonomian, baik perusahaan besar hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Seperti halnya usaha pembuat kue milik Tien Siahaan warga Desa Lumban Gaol Kecamatan Balige, Kabupaten Toba.

Memasuki tahun kedua sejak Tien Siahaan menggeluti pekerjaannya, pandemi Covid-19 membawa dampak yang sangat buruk bagi penghasilannya yang menurun drastis. Hal itu diutarakan Tien kepada Mistar, Sabtu (21/11/20).

“Yah tahun ini memasuki tahun yang kedua sejak kami menggeluti usaha ini. Ada beberapa aneka macam kue secara bergantian yang kami masak. Seperti kue dadar gulung, ongol-ongol, kue lapis, gabin, klepon, wajit dan lupis. Kami memasaknya tiap hari saat malam, dan paginya siap saji dan dipasarkan,” terang ibu dari 2 anak itu.

Baca Juga: Pasar Kamu Kawan Lama, Kuliner yang Mengedukasi di Areal Persawahan

Pemasaran kue yangmereka buat, di sekitaran desa saja. Padahal sebelum Covid-19 mewabah, mereka sudah berencana merambah pemasarannya hingga keluar desa.

Adapun cara mereka memasarkan kue buatannya, sebagian dijual di rumah dan sebagian dititip di warung maupun kios-kios. “Setiap paginya kue diantar sekaligus menagih hasil yang terjual oleh  pemilik kios ataupun warung, pemilik warung maupun kios tempat penitipan kue kami beri jasanya,” ujarnya.

Di tengah pandemi Covid-19 di masa era new normal, Tien bersama suami yang setia mendampingi hanya dapat bersabar dan melakoni usahanya demi menghidupi keluarga bersama dua orang anaknya yang masih duduk di sekolah dasar. “Semoga pandemi ini segera berakhir,: harapnya.

Baca Juga: Sektor Kuliner di Medan Mulai Meningkat

Walau begitu, Tien selalu bersyukur karena di era new normal ini omzet penjualan kue yang dibuatnya sudah mulai meningkat, dapat terjual sebanyak 80 s/d 100 biji setiap harinya dimana harga setiap biji dijual seharga Rp1.000.

Diakhir perbincangannya dengan Mistar, dia mengharapkan hadirnya pihak ketiga untuk berkenan membantu menambah modal untuk membenahi tempat masak kue, pengadaan kemasan dan transportasi untuk memasarkan jualannya.

Adapun beban yang selalu jadi pikirannya masa pandemi ini, selain penjualan berkurang, untuk membutuhi keperluan sehari-hari juga disulitkan membayar sewa rumah yang mereka kontrak.(james/hm02)