23.9 C
Medan
Saturday, January 29, 2022
spot_img

Mengenal 80 Tahun Museum Warisan Raja Marpitu

Pematangsiantar, MISTAR.ID Memasuki pertapakan Jalan Sudirman No20 Kota Pematangsiantar, Provinsi Sumatera Utara, berdiri sebuah bangunan yang menyimpan bukti-bukti sejarah perjuangan satu suku bangsa Indonesia, yaitu etnis Simalungun. Bangunan itu dinamai Museum Simalungun, berdiri persis di sebelah Kantor Polres Pematangsiantar.

Di tengah lahan yang nyaris tanpa pelataran parkir itu, kita akan melihat sebuah bangunan rumah adat. Begitu menjejakkan kaki memasuki lokasi museum Simalungun, pandangan mata akan tertuju pada sosok patung terbuat dari batu, berukuran setengah badah manusia, terpajang persis di tengah bagian depan bangunan museum tersebut.

Patung dari batu itu dinamai Pangulu Balang, sebagai simbol bahwa peran Pangulu Balang dulu bertugas menjaga istana raja-raja di Simalungun, patung itu merangkul dua gambar patung sebagai simbol melindungi.

Kemudian, di sebelah kanan memasuki gerbang ada lagi satu patung. Kata pengurus yayasan itu adalah patung Catur Raja Nagur, sedangkan di sebelah kiri pintu masuk ada patung gajah, dinamai patung gajah Raja Dolok Silou.

Dan beberapa patung yang ukurannya lebih kecil berada di belakang patung Pangulu Balang, adalah simbol sebagai pasukan Pangulu Balang.

Sedangkan di bagian dinding depan yang menyatu dengan rumah adat, terlihat 10 ukiran kayu berupa wajah manusia, delapan diantaranya ukuran kecil dan dua lagi ukuran besar, dinamai bohi-bohi (wajah-wajah).

Makna bohi-bohi itu, kata pengurus Yayasan Museum Simalungun sebagai simbol ucapan selamat datang kepada para tamu, dan juga sebagai simbol penjaga museum.

Ketua Yayasan Museum Simalungun, Jomen Purba dalam wawancara khusus Mistar di kantor yayasan, Kamis (7/11/19) mengisahkan sejarah berdirinya Museum Simalungun.

Museum Simalungun, kata Jomen dibangun 6 tahun sebelum Indonesia merdeka, tepatnya 10 April 1939, menelan biaya sebesar 1.650 gulden, kemudian diresmikan tanggal 30 April 1940. Luas areal museum ada tiga rante (satu rante = 20m x 20m, -red).

Yang membangun museum Simalungun, adalah AH.Doornik (ketua), Tuan Maja Purba (anak dari keluarga besar Raja Purba), Tuan Mogang Purba (Raja Purba terakhir) mewakili raja-raja, Jaudin Saragih (Pangulu Balei), dan dua orang bangsa Belanda, Tuan RH.Volbeda (ketika itu sebagai Adm Perkebunan Horas) dan Dr.P.Voorhoeve Taalamtenaar (ahli bahasa).

Sejak dahulu kala, raja-raja dan keturunan raja-raja Simalungun sudah sangat memahami arti pentingnya sejarah adat budaya dan sejarah perjuagan bangsa untuk diwariskan kepada anak cucu dan generasi muda bangsa kita.

Ini kata Jomen ditandai dari semangat para raja-raja dan keturunan raja-raja yang jauh hari telah memikirkan akan arti pentingnya sebuah museum, hingga kemudian membangun museum Simalungun sebelum Indonesia merdeka.

Tujuan membangun museum itu, lanjut Jomen, untuk menjaga dan melestarikan benda-benda cagar budaya yang bernilai sejarah dan bernilai adat budaya, agar tidak lenyap ditelan jaman.

Kemudian, sejak 7 Juni 1955 pengelolaan Museum Simalungun diserahkan kepada Yayasan Museum Simalungun. Selanjutnya, biaya perawatan dan pemeliharaannya diharapkan dari sumbangan pengunjung dan Pemerintah Kabupaten Simalungun serta Pemerintah Kota Pematangsiantar.

Di dalam museum yang berbentuk rumah adat itu, tersimpan berbagai koleksi yang sangat bersejarah, jumlahnya mencapai 860 buah. Seluruhnya disimpan dan tertata rapi dalam etalase kaca berukiran kayu yang ada di lantai dua museum. Menuju penyimpanan situs bersejarh itu, kita telebih dahulu harus menaiki tangga kayu.

Ada koleksi etnografis berupa peralatan-peralatan. Seperti peralatan rumah tangga, pertanian, menangkap ikan, peralatan meramu dan berburu, pandai emas dan pandai besi, bambu, porselin, tanah liat, tanduk, tulang-tulang, besi tembaga, peralatan dari kuningan dan banyak lagi.

Koleksi keramikologie seperti keramik asal China, Holland dan Spanyol. Koleksi numismatika tak kalah menariknya, terdiri dari berbagai mata uang jaman dulu, seperti uang Belanda, Jepang termasuk mata uang Indonesia.

Belum lagi peninggalan naskah-naskah kuno (old manuscript) yangterbuat dari kulit kayu alim dan bambu ayan, atau istilah aslinya laklak. Naskah-naskah kuni ini menyimpan berbagai aspek ilmu pengetahuan seperti astrologi dan astronomi, serta ramuan membuat obat tradisional.

Sedangkan koleksi arkeologi yang ada terdiri dari aneka arca yang terbuat dari batu, perunggu dan kuningan. Dan koleksi karya seni handcraft, berupa arca dan ornament yang bahannya terbuat dari kayu dan bambu.

“Jumlah keseluruhan benda-benda bersejarah itu ada sekitar 860 buah, seluruhnya kita simpan rapi dalam vitrine atau lemari panjang yang ada di Museum Simalungun,” kata Jomen Purba.

Reporter: Maris
Editor: Herman

Related Articles

Stay Connected

2,753FansLike
12,688FollowersFollow
20,700FollowersFollow
2,600FollowersFollow

Latest Articles

%d bloggers like this: