22.8 C
Medan
Saturday, May 28, 2022
spot_img

Mengintip Bursa Malam di ‘Pasar Rojer’ Siantar

Siantar | MISTAR.ID – Sindiran satir, ketika rapat paripurna antara Komisi III DPRD dengan Bappeda Kota Pematangsiantar, Jumat (16/11/19), mencuat dari wakil rakyat dan isinya sangat menggelitik kita.

“Siantar dinilai tidak punya ikon apapun, dikatakan kota pendidikan tidak, dikatakan kota kuliner tidak, dikatakan kota wisata pun tidak,” demikian suara kritik dari salah satu anggota Komisi III yang ditujukan kepapa pihak Bappeda.

Walau dikatakan bagaikan tidak punya ikon begitu, tapi sekarang ini, kalau berada di Kota Pematangsiantar, kita akan disambut berbagi warna keramaian. Walau warna keramaian itu sebenarnya tidak beraturan dan tidak tertatak degnan rapi.

Seperti halnya, kehadiran pedagang rombengan jerman (Rojer, istilah pedagang pakaian bekas) yang muncul bak jamur di musim hujan, mereka bebas memajangkan dagangannya di sejumlah titik inti kota.

Kehadiran pedagang Rojer ini, ternyata mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Kota Pematangsiantar. Bahkan penduduk Kabupaten Simalungun tidak sedikit tiap malamnya sengaja datang ke Siantar hanya untuk membeli pakaian bekas ‘Rojer’.

Para pedagang itu, biasanya mulai memajangkan dagangannya sekira pukul 19.00 Wib. Ada yang di seputaran Jalan Merdeka hingga ke jalan-jalan sekitarnya, ada yang di sepanjang Jalan Sutomo dan sekitarnya.

Akses menuju bursa malam pakaian bekas itu, sangat mudah, karena berada di inti kota.

Bukan hanya barang bekas yang diperdagangankan, barang-barang produk baru, juga tersedit.

Tapi dari amatan Mistar, peminat yang datang lebih mencari barang bekas merek import. Seperti tas, sepatu, pakaian, bahkan tali pinggang.

Kisaran harga barang bekas antara Ro70 ribu bahkan ada yang sampai lebih Rp400 ribua. Namun harga ini masih bisa dinego.

Egi Simangunsong, pedagang sepatu yang menjajakan dagangannya di Jalan Soa Sio Pematangsiantar, mengatakan, semua barang jualannya produk luar negeri, dia membeli barangnya dari agen.

“Semua barang saya dari luar negeri (import), ada yang dari Singapura, China, dan Jepang. Saya ambil dari agen di sana. Semua agen itu yang mengurus sampai jatuh ke tangan saya,” jelas Egi.

Selain Egi, P.Simorangkir pedagang tas menjelaskan, dia melakoni bisnis barang bekas itu sudah sangat lama.

Kalau berdagang malam hari di pinggiran jalan Kota Siantar, lebih banyak untungnya dibandingkan berdagang di dalam pajak.

“Semakin malam, pembeli semakin ramai. Dan peminatnya banyak. Pelanggan kita dari kalangan tua hingga anak muda, bahkan anak-anak remaja juga tidak sedikit,” katanya.

Lapak yang mereka gunakan kebanyakan di emperan pertokoan yang malam harinya sudah tutup.

Halnya Rita. Pedagang khusus sepatu wanita dan anak-anak ini menjelaskan, mereka sudah minta izin terlebih dahulu kepada pemilik rumah. Bahkan ada juga yang memberikan uang terimakasih setiap bulannya.

Omset penjualan para pedagang rata-rata Rp400 hingga Rp 700 ribu setiap malamnya. Kecuali ketika ramai pengunjung disaat awal bulan atau malam Minggu,dan hari raya, bisa sampai jutaan.

“Dulu ketika menjual rojer di tempat ini, tidak seramai sekarang, tapi omset penjualan bisa mencapai 2 jt – 3 jt dalam sehari. Tapi karena persaingan mulai banyak, mau nggak mau harus berbagi dengan yang lain,” kata Simorangkir.

Eci, seorang pembeli sepatu import, mengaku sering datang di hari pekan, atau pas libur kerja. “Kalau belanja malam lebih enak, ga panas dan ga banyak orang lewat,” katanya.

Dia mencari sepatu buat fitness. Menurutnya sepatu-sepatu tersebut bagus bahkan kelihatan seperti baru. Selain kualitasnya bagus, pengeluaran juga kata dia jauh lebih hemat.

Kehadiran pekaian impor bekas ini, dulu dampaknya sempat dikait-kaitkan dengan kesehatan, tapi waktu terus berjalan, pakaian bekas pun makin diminati, dan tidak pernah terdengar ada pelanggan atau konsumen yang mengeluhkan efek kesehatan setelah memakai pakaian import bekas.

“Saya sudah lama pakai barang rojer, seperti sepatu atau baju. Namun sampai sekarang belum pernah terkena penyakit kulit. Tapi bukan berarti saya berharap kena. Sebelum saya pakai, saya rendam dulu semalaman, lalu saya cuci sampai bersih. Biar aman ajalah,” ujar seorang pembeli di sekitar pintu Pasar Horas Jaya Siantar.(hm02)

Penulis : Yetty

Editor : Herman Maris

Related Articles

Stay Connected

2,753FansLike
12,688FollowersFollow
20,700FollowersFollow
2,600FollowersFollow

Latest Articles

%d bloggers like this: