Bisnis Tape Singkong Bu Sam, Untungnya Menggiurkan

Proses pembuatan tape singkong Bu Sam di Kota Pematangsiantar.(f:mistar/yetty)
Proses pembuatan tape singkong Bu Sam di Kota Pematangsiantar.(f:mistar/yetty)

Siantar | MISTAR.ID Panggilan ibu itu, Bu Sam. Bertempat di kediamannya, Jalan Sibatu-batu, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Pematangsiantar, setiap harinya dia memproduksi tape singkong dan tape pulut.

Kepada Mistar, ibu itu menceritakan bagaimana dia membuat hingga memasarkan tape racikannya.

Proses pembuatan tape singkong kaktanya, tak jauh beda dengan pembuatan tape pulut. Hanya bahannya saja yang berbeda, yang satu tape dari ubi kayu atau singkong dan satunya lagi dari pukut hitam.

Tape singkong maupun tape pulut, biasanya tidak tahan lama karena cepat berair. Tape merupakan makanan hasil fermentasi yang banyak digemari masyarakat Indonesia.

Setiap harim Bu Sam mampu memproduksi 200 hingga 300 kg singkong. Pasar paling ramai, katanya pada hari Rabu.

Pada hari itu, katanya, banyak pedagang dadakan dari berbagai pasr memesan lebih dari biasanya. Bahkan menjelang hari raya, produksinya bisa menghasbiskan sekitar 700 kg singkong.

“Saya paling sering buat tape singkong, karena peminatnya lebih banyak dibandingkan tape ketan. Selain itu, ketan (pulut) harganya lebih mahal daripada singkong,” ujarnya.

Singkong yang biasa diolah Bu Sam menjadi tape, adalah singkong manis yang berwarna putih atau kuning.

Dia sedikit menceritakan, bahwa tape singkong warna kuning lebih enak ketimbang singkong putih, karena singkong kuning dagingnya lebih halus tanpa ada serat-serat kasar. Tapi kalau yang paham tape, sebenarnya itu katanya sama saja.

Ditanya cara pembuatannnya? Pertama-tama ubi kayu tanpa kulit yang sudah bersih dikukus hingga matang (sekitar 30 menit), kemudian didinginkan, dan ditaburi bubuk ragi. Hal ini dilakukan untuk resapan fermentasi pada ubi hingga berproses jadi tape.

Fermentasi biasanya dilakukan di dalam keranjang bambu, namun sekarang bisa juga menggantikannya dengan keranjang plastik, diberi alas daun pisang dan dilakukan pada suhu ruang selama 2-3 hari.

“Biasanya saya membungkus pada malam hari, sebab pagi-pagi sekali, saya harus mengantarnya kepada para pengecer di pasar tradisional sekitar sini saja. Sebungkus dijual seharga seribu rupiah,” ucap Bu Sam.

Setiap hari, ia bisa menjual 900 kemasan tape singkong. Maka tak heran, ia bisa mengantongi omset penjualan sekitar Rp15 hingga Rp20 juta per bulan.(hm02)

Penulis : Yetty
Editor : Herman Maris