Terinspirasi Anatomi Tulang, Ilmuwan Kembangkan Membran untuk Tuai Energi dari Air Laut

Terinspirasi Anatomi Tulang, Ilmuwan Kembangkan Membran untuk Tuai Energi dari Air Laut
Terinspirasi Anatomi Tulang, Ilmuwan Kembangkan Membran untuk Tuai Energi dari Air Laut

Washington | MISTAR.ID – Terinspirasi oleh tulang rangka dan tulang rawan, tim ilmuwan di Australia dan Amerika Serikat mengembangkan sebuah membran yang bisa menghasilkan listrik dari air laut.

Penelitian yang diterbitkan pekan ini di jurnal Joule tersebut menunjukkan bahwa membran itu kuat seperti tulang rangka dan cocok untuk perpindahan ion seperti tulang rawan. Membran tersebut bisa “memanen” energi laut untuk menghasilkan bentuk energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Energi laut, yang berasal dari perbedaan kadar tekanan dan salinitas antara air tawar dan air laut, lebih bisa diandalkan daripada energi surya dan bayu. Namun, materi-materi nano yang umum digunakan di dalam membran mudah rusak dan hancur di air laut, ungkap penelitian itu.

Para peneliti dari Universitas Deakin dan Universitas Michigan mulai membuat jaringan makhluk hidup sebagai cetak biru. Mereka memperhatikan bahwa jaringan-jaringan lunak seperti tulang rawan bisa dilintasi ion, tetapi jaringan ini lemah dan rapuh. Sebaliknya, tulang rangka sangat kuat, tetapi tidak dapat menjadi media transportasi ion yang efisien.

Tim peneliti menemukan sebuah cara untuk “mengawinkan” kedua tipe material itu guna mendapatkan kedua sifat tersebut pada waktu bersamaan. Mereka menggabungkan nanofiber aramid, yang membuat material berserat fleksibel seperti tulang rawan, dengan boron nitrida yang menghasilkan platelet seperti tulang rangka.

Para peneliti berulang kali membasuh membran tersebut di dalam natrium klorida sebanyak 20 siklus guna memantau kestabilannya. Mereka menemukan bahwa membran itu terus berfungsi optimal setelah 200 jam.

“Membran komposit baru kami memiliki ketebalan yang bisa disesuaikan dan stabilitas yang tinggi pada suhu antara 0 hingga 95 derajat Celsius dan pada pH 2,8 hingga 10,8,” tutur Lei Weiwei, ilmuwan kepala proyek di Universitas Deakin tersebut.

Sumber: Xinhua/Antara
Editor: Luhut Simanjuntak