22.5 C
Medan
Monday, December 6, 2021
spot_img

Sekolah Berbasis Teknologi di Tengah Pandemi Sebuah Keharusan

Oleh: Silvianti Azhar S.Pd
Guru SDN 064992 Kota Medan

Pembelajaran daring di kota Medan memasuki semester ke tiga. Hampir boleh dikatakan, tidak ada yang merasa diuntungkan dari kondisi ini. Semua nyaris merasa kelabakan ketika pemnelajaran harus dilakukan secara daring. Benarkah sekolah berbasis teknologi ini pada prakteknya gagal memberikan pembelajaran?

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi satu satunya langkah yang diputuskan oleh pemerintah agar pembelajaran tetap bisa dilakukan di masa pandemi Covid-19. Bagaimana tidak, mobilitas masyarakat yang seketika harus diturunkan, turut pula mengharuskan anak2 usia sekolah tetap di rumah, agar Covid-19 tidak menyebar dengan cepat. PJJ adalah solusi sebagai alternatif bagi siswa agar tetap bisa belajar.

Pada akhirnya, kemampuan anak dalam menyerap ilmu yang diberikan guru dengan model belajar daring hanya 50 persen. Bahkan banyak yang di bawah itu persentase tersebut.

Pada awal daring, Maret tahun 2020 lalu, anak, orangtua dan guru masih antusias dan optimis pembelajaran akan berjalan baik-baik saja. Namun memasuki ajaran baru pada Bulan Juli tahun lalu, keluhan mulai riuh terdengar terutama dari orangtua siswa.

Ketidaksanggupan mereka dalam mendampingi anak ketika pembelajaran berlangsung menjadi alasan utama. Ditambah lagi, waktu orangtua yang harus terbagi, padahal tentu saja orangtua memiliki kesibukan lain yang jauh lebih penting.

Begitu juga anak, keseriusan mereka belajar saat di sekolah ternyata sulit mereka dapatkan ketika dirumah. Suasana yang lebih santai, hiburan dan permainan yang ada di samping mereka, membuat siswa sulit berkonsentrasi saat belajar. Juga harus diakui tidak semua orangrtua mampu menjadi guru, dalam arti kata, cara orangtua menjelaskan materi ulang yang telah disampaikan guru tidak mereka kuasai.

Dipihak guru, kondisi ini tentu juga tidak lebih baik. Penyerapan ilmu yang diharapkan mampu dikuasai siswa paling tidak 80 persen jelas sulit tercapai. Ditambah lagi semakin berkurangnya keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran menjadi masalah tersendiri lagi. Padahal, guru sudah mempersiapkan materi ajar yang telah coba disesuaikan dengan kondisi saat ini.

Sebenarnya, pemanfaatan tekhnologi dalam dunia belajar sudah harus dilakukan jauh sebelum masa panemi Covid -19. Sayangnya, kesiapan untuk itu nyatanya tidak bisa dilakukan. Hingga akhirnya, pandemi yang memaksa penggunaan tekhnologi harus dilakukan.

Lantas, mengapa ketika keharusan menggunakan teknologi dalam pembelajaran hampir semua pihak merasa tidak siap.
Ada beberapa hal yang membuat pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan teknologi tidak berjalan dengan baik. Yaitu:

1. Tenaga Pengajar
Tenaga pengajar adalah kunci utama dari pembelajaran jarak jauh memanfaatkan teknologi. Jika tenaga pengajar tidak siap, bagaimana kita berharap siswa bisa mengikuti PJJ ini dengan baik? Ada 2 hal yang menjadi dasar, yakni:

a. Kemampuan Tenaga Pengajar menggunakan teknologi
Harus diakui, tidak sedikit tenaga pengajar yang gelagapan karena tidak siap dengan methode menggunakan teknologi. Pelatihan bagi guru untuk mendukung pemanfaatan teknologi nyaris tidak pernah dilakukan Bahkan, kalau boleh jujur, banyak tenaga pengajar yang tidak bisa menggunakan komputer. Konon pula harus membuat sistem pembelajaran melalui teknologi. Bahkan mirisnya, masih banyak guru yg belum bisa menggunakan zoom meeting, pembuatan video pembelajaran dan lainnya

b. Kreatifitas Tenaga Pengajar
Metode PJJ, harus pula diimbangi dengan kreatifitas seorang guru dalam memberikan bahan ajar. Tentu saja sangat berbeda, belajar dengan tatap muka yg berhadapan langsung dengan guru, dengan yg tidak berhadapan langsung Guru harus bisa menciptakan metode pembelajaran agar menarik bagi siswa. Saat ini justru kebanyakan siswa diajak mencatat buku sampai habis, hingga membosankan anak didik.
Video pembelajaran, agaknya perlu dipertimbangkan saat ini karena sifatnya audio visual yang lebih memberikan ketertarikan.

PJJ Sebenarnya mengajak agar guru lebih kreatif bagaimana membuat anak didik serasa belajar di sekolah. Mampu menghadirkan kompetisi antar siswa, dan lainnya.

2.Fasilitas Pendukung
Fasilitas pendukung penting diberikan kepada anak didik, sehingga tidak menjadi penghambat.
a. Alat
Yah mau tak mau, anak harus difasilitasi alat, handphone yang memadai. Meskipun harus kita sadari tidak semua orang memiliki kemampuan. Untuk hal tertentu pemerintah harus memberi perannnya.

b. Jaringan internet
Selain itu, yang tidak kalah penting dalam pemberlakuan PJJ adalah jaringan internet.
Bagaimana dengan wilayah perdesaan, dengan pelosok dan pedalaman. Kelancaran jaringan internet masih menjadi kendala.

3. Dukungan Orangtua
Orangtua, sebagai pembimbing anak di rumah, tentu memiliki peran yang besar, ketika pola pembelajaran mulai diadaptasikan kepada anak. Memang harus diakui, era saat ini ibu tidak lagi dapat diharapkan menjadi pembimbing di rumah, mengingat banyak perempuan yang saat ini sudah bekerja di ranah publik dan bukan lagi ranah domistik.

a. Ruang khusus belajar
Setidaknya, orangtua memberikan fasilitas yang nyaman untuk anak ketika pembelajaran jarak jauh di mulai. Sediakan kamar bagi anak untuk ia bisa belajar dengan nyaman dan tidak terganggu dengan orang lain.

b. Jadwal belajar anak
Orangtua juga harus bisa ikut mengatur jadwal belajar anak, sehingga tidak diganggu hal lain dengan pekerjaan di rumah maupun waktu bermain anak.

c. Paket Data untuk belajar
Yah mau tak mau, orangtua menyiapkan paket data untuk PJJ. Itu yg harus disiapkan orang tua, anggap saja sebagai pengganti ongkos anak ke Sekolah.

Penutup
Siap tidak siap, kita harus siap menghadapi perubahan pola ajar, karena setelah ini kita tidak tahu, apa selanjutnya yang akan terjadi. Aapakah pandemi akan terus berlangsung, ataukah meski sudah berakhir pola PJJ akan tetap diterapkan.

Yang pasti, kita diminta untuk siap dan kreatif untuk tetap bisa mencari alternatif-alternatif agar pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan jaman. Dan kita harusnya siap untuk itu. Karena kita juga tidak tahu sampai kapan Pandemi Covid ini akan berakhir. Karena bukan tidak mungkin akan muncul parian baru atau entah pandemi apa lagi yang akan kita hadapi. Meskipun tidak henti pula kita berharap pandemi ini segera berakhir (*)

spot_img

Related Articles

Stay Connected

2,753FansLike
12,688FollowersFollow
19,600FollowersFollow
2,600FollowersFollow

Latest Articles

%d bloggers like this: