32 C
Medan
Saturday, May 28, 2022
spot_img

Fenomena Paslon Tunggal, Partai Hanya Ingin Usung Calon Pemenang

Medan, MISTAR.ID

Fenomena munculnya pasangan calon (Paslon) tunggal di Pilkada menjadi salah satu perhatian di Pilkada 2020. Di Sumut, dua daerah yakni Kota Pematangsiantar dan Kota Gunung Sitoli berpotensi akan menggelar Pilkada dengan satu Paslon karena mayoritas parpol mendukung satu Paslon.

Di Siantar, partai ramai-ramai mendukung pasangan Asner Silalahi-Susanti Dewayani sedangkan di Gunung Sitoli, pasangan petahana Lakhomizaro Zebua-Sowaa Laoly mendapat dukungan 23 dari 25 kursi DPRD.

Lantas bagaimana partai-partai memberi penjelasan soal ini?

Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Aswan Jaya mengungkapkan sejujurnya fenomena Paslon tunggal di Pilkada ini merupakan sebuah keprihatinan dalam sistem demokrasi terbuka saat ini. Bagaimana bisa di satu daerah, hanya satu pasangan yang muncul untuk dicalonkan.

Baca Juga:Calon Tunggal Lawan Kotak Kosong, Preseden Buruk Marak

“Hanya saja yang perlu digarisbawahi, prinsipnya partai ingin menang. Darimana partai tahu calon yang berpotensi menang? Dari survei. Kebetulan, pilihan itu jatuh pada sosok yang sama,” kata Aswan, yang diminta tanggapannya, Rabu (19/8/20).

Menurut dia sebetulnya, dengan sistem politik terbuka saat ini, membuka peluang bagi figur-figur yang potensial untuk maju menjadi Paslon di Pilkada melalui jalur perseorangan. Sehingga tidak hanya berharap untuk diusung partai.

“Hanya saja banyak calon independen tidak mengakar. Tidak banyak yang memahami regulasi sehingga banyak yang gagal maju dari jalur independen,” ungkapnya.

Baca Juga:Calon Tunggal Di Pilkada 2020, Money Politic Rendah

Lantas apakah dengan hanya satu Paslon yang ramai-ramai didukung oleh mayoritas parpol, harapan rakyat akan terakomodir?

“Partai itu kan menentukan melalui survei. Survei itu kan melibatkan masyarakat pemilih. Apakah mereka mampu memenuhi harapan? Kita lihatlah setelah mereka bekerja. Yang pasti, paslon tunggal itu pasti punya nilai lebih yang luarbiasa,” ungkapnya.

Selain Siantar dan Gunungsitoli, partai-partai di Medan juga ramai-ramai mendukung Bobby Nasution yang kemudian memunculkan potensi Paslon tunggal. Namun, akhirnya PKS dan Demokrat mengumumkan koalisi mereka mengusung Akhyar-Salman menantang Bobby Nasution-Aulia Rahman yang didukung mayoritas parpol.

Ketua DPW PKS Hariyanto memberi penjelasan soal dukungan mereka di Pilkada Medan dan keinginan mereka mencegah paslon tunggal. “Demi terciptanya suasana demokratis di masyarakat,” kata Hariyanto memberi penjelasan.

Dengan adanya alternatif pilihan kata dia, masyarakat akan punya pilihan untuk memilih pemimpinnya. “Sehingga seleksi kepemimpinan pun alami,” jelasnya.

Pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Agus Suriadi berpendapat secara teoritik sebenarnya calon tunggal itu bukan merupakan proses kontestasi dalam sebuah perlombaan karena konsep demokrasi selalu mengarah pada pertarungan ideal antar dua calon atau lebih.

“Sehingga masyarakat kemudian punya preferensi dari orang-orang terbaik. Tapi empiriknya di Indonesia terutama Pilkada selama ini selalu muncul kasus calon tunggal,” kata dia. (iskandar/hm01).

Related Articles

Stay Connected

2,753FansLike
12,688FollowersFollow
20,700FollowersFollow
2,600FollowersFollow

Latest Articles

%d bloggers like this: