Perhatian! WHO Prediksi Corona Berakhir Awal 2022

Logo World Health Organization (WHO) (f,AP Photo/Anja Niedringhaus)

Jakarta, MISTAR.ID

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi gambaran baru soal kapan akhir corona (Covid-19).

Direktur Regional Eropa misalnya, optimis pandemi akan berakhir segera di awal 2022.
Melansir kantor berita Turki Anadolu Agency, Hans Kluge mengatakan corona masih akan menyebar di 2021.

Namun, dalam wawancara dengan radio Denmark DR, ia menyebut corona akan dengan mudah dikelola dibanding 2020.

“Skenario terburuk sekarang telah berakhir,” tulis Anadolu mengutip Kluge, Senin (22/2/20).

Baca Juga: Taiwan Minta Bantuan Internasional Atas Ancaman Cina

Ia menegaskan akan lebih banyak informasi mengenai virus tahun ini dibanding 2020 lalu.

Meski menyebut tak bisa meramal pasti masa depan corona, ia menegaskan pembatasan tak lagi diperlukan. “Ini pesan optimis,” ujarnya lagi.

Mengenai mutasi corona yang kini menyebar, Kluge menyebut mutasi adalah hal normal. Virus, kata dia, mencoba beradaptasi dengan orang yang terinfeksi.

Tapi memang, penyebaran mutasi yang cepat menjadi perhatian WHO. Badan itu, kata dia, tengah memantau dengan cermat efektivitas vaksin dan kemungkinan mengubah vaksin jika perlu.

Ia meyakinkan mutasi tak akan membuat virus di luar kendali. Tapi hal ini harus ditanggapi serius mengingat negara-negara yang sistem perawatannya sudah di bawah tekanan bisa saja berada dalam masalah lebih besar.

Kluge menunjukkan bahwa masalah terbesar akan muncul ketika mereka yang divaksinasi berada di lingkungan yang sama dengan yang tidak. Sehingga penjadwalan menjadi faktor yang sangat penting.

Melansir Worldometers, virus corona saat ini telah menginfeksi 112 juta warga dunia, dengan 2,4 juta kematian. Namun ada 87 juta orang sembuh.

Berikut daftar negara dengan kasus corona terbanyak, sejak pertama muncul hingga sekarang:

1. Amerika Serikat (28 juta kasus, 512 ribu kematian)

2. India (11 juta kasus, 156 ribu kematian)

3. Brasil (10 juta kasus, 247 ribu kematian)

4. Rusia (4,17 juta kasus, 83 ribu kematian)

5. Inggris (4,12 juta kasus, 120 ribu kematian)

6. Prancis (3,6 juta kasus, 84 ribu kematian)

7. Spanyol (3,1 juta kasus, 67 ribu kematian)

8. Italia (2,8 juta kasus, 95 ribu kematian)

9. Turki (2,6 juta kasus, 28 ribu kematian)

10. Jerman (2,3 juta kasus, 68 ribu kematian)
(CNBCIndonesia/hm13)