Jutaan Warga AS Kehilangan Tunjangan Pengangguran

Buku panduan mengenai tunjangan pengganguran bagi warga Amerika Serikat di sebuah meja di North Andover, Massachussets, AS, 5 November 2020 (f:voa/mistar)

Washington, MISTAR.ID
Jutaan pengangguran Amerika akhirnya kehilangan tunjangan penganggurannya pada Sabtu (26/12/20) setelah Presiden Donald Trump menolak untuk menandatangani Rancangan Undang-Undang (RUU) paket bantuan pandemi senilai $ 2,3 triliun.

Reuters melaporkan, Sabtu (26/12/20), langkah penolakan Trump tersebut mengejutkan Partai Republik dan Demokrat. Trump merasa tidak senang dengan RUU itu, yang menyediakan bantuan virus corona sebesar $892 miliar. Termasuk dalam legislasi itu perpanjangan tunjangan pengangguran khusus yang berakhir pada 26 Desember, dan $ 1,4 triliun untuk pembelanjaan pemerintah.

Menurut Departemen Tenaga Kerja, tanpa tanda tangan Trump, sekitar 14 juta orang bisa kehilangan tunjangan tambahan. Selain itu, sebagian operasi pemerintahan juga terancam ditutup pada Selasa (29/12/20), kecuali Kongres dapat menyetujui RUU pendanaan pemerintah sebelum itu.

Baca juga: Ilmuwan Nuklir Iran Tewas Terbunuh, Ini Tindakan Amerika Serikat

Setelah berbulan-bulan bertikai, Partai Republik dan Demokrat menyetujui stimulus untuk membantu keluarga dan bisnis yang terkena imbas virus corona, dengan dukungan Gedung Putih. Trump, yang akan menyerahkan kekuasaan kepada Presiden terpilih dari Partai Demokrat Joe Biden pada 20 Januari, tidak keberatan dengan ketentuan kesepakatan sebelum Kongres memberikan suara pada Senin (21/12/20) malam.

Namun sejak itu, Trump mengeluh bahwa RUU tersebut terlalu banyak mengalokasikan dana untuk kepentingan khusus, proyek budaya dan bantuan asing, sementara stimulus untuk jutaan orang Amerika sebesar $600 per orang dinilai terlalu kecil. Dia menuntut besaran bantuan tunai tersebut dinaikkan menjadi $2.000.

Baca juga: Dolar AS Terjerembab Dihajar Selera Risiko Pilpres Amerika

“Mengapa politisi tidak ingin memberi orang $2.000, tapi hanya $600? … Berikan uang kepada rakyat kami!,” cuit presiden di laman Twitternya pada Hari Natal.

Banyak ekonom yang sepakat dengan Trump, bahwa bantuan RUU itu dinilai terlalu rendah, tetapi mereka mengatakan bantuan langsung segera masih diperlukan.

Sebuah sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan keberatan Trump terhadap RUU tersebut membuat banyak pejabat Gedung Putih terkejut. Meskipun strategi presiden untuk RUU tersebut masih belum jelas, dia belum memveto dan masih mungkin untuk menandatanganinya dalam beberapa hari mendatang. (voa/hm06)