26 C
Medan
Friday, July 1, 2022
spot_img

Sempat Tak Dapat Dukungan Keluarga, Ave Barus Kini Terkenal dengan Uis Karo

Medan | MISTAR.ID – Sempat terkendala karena keluarga tidak mendukung, Averiana Barus kini menjadi seorang wanita yang dikenal orang karena usaha Uisnya. Selain terkenal, ia juga bisa bangga dengan usaha yang digelutinya karena mampu membawa budaya Karo ke manca negara.

Wanita berusia 32 tahun ini memulai usaha menjual Uis Karo atau kain ulos tenun khas Karo pada saat ingin manggung bernyanyi. Ia ingin mencari fashion yang pas pada saat manggung.

“Mencari pakaian untuk manggung, terus terpikir dengan Uis Karo. Dari sini saya coba untuk berpenampilan yang baru,” sebut dia di toko usahanya Jalan Djamin Ginting Medan, Kamis (24/10/19).

Mulai dari situ tepatnya pada tahun 2014, wanita lulusan Sarjana Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara itu selalu mengenakan kain ciri khas Karo itu saat manggung bernyanyi atau nge-MC acara.

Yang membuat dirinya semakin percaya diri, saat kuliah ia mendapatkan tugas tentang bisnis komunikasi. Dari sini wanita kelahiran tanggal 29 Maret 1987 semakin bertekad untuk membawa budaya Karo ke manca negara.

“Saya ingin membawa budaya Karo dikenal sampai ke luar negeri. Disinilah saya mencoba menjual kain, aksesoris hingga peralatan adat Karo,” ungkap prempuan yang memiliki hobi bernyanyi itu.

Saat akan memulai usaha, ibunya boru Ginting sempat melarang. Orangtuanya itu menyuruh dia untuk mencari pekerjaan lain.

“Karena saat itu saya baru tamat kuliah, ibu saya bilang cari kerja di kantoran. Ibu saya sempat tidak mendukung,” kata wanita yang kerap disapa Ave.

Namun karena usaha dan kerja kerasnya, wanita ini mampu menunjukkan kepada keluarganya kalau ia mampu dalam bidang usaha. Ia pun membuka galeri produksinya yang dinamakan Rumah Uis yang kini banyak dikenal orang.

“Awalnya yang membeli itu dari online, lama kelamaan saya buka toko namanya Rumah Uis. Konsumen saya sekarang ada dari luar negeri, ini suatu kebanggan bagi saya,” ucap dia.

Membawa Rumah Uis dikenal orang bukan lah gampang. Menurut dia, dalam bisnis usaha selalu ada kendala di keuangan. “Saya sempat berutang kesana kemari, tapi itu semua saya lewati hingga berdirinya usaha ini,” ucap dia.

Ave menye but kan harga satu uis bisa mencapai jutaan. Sedangkan ulos, dewasa ini sudah diproduksi oleh mesin.

“Uis diproduksi dengan cara ditenun, ini lah yang membuat harganya bernilai ‘selangit’,” sahutnya.

Tatkala uis hanya ditampilkan dalam acara pernikahan dan kematian, Ave berupaya mengkreasikan uis dalam beragam produk. Sebutlah busana pesta, dalam bentuk gaun mini pun gaun panjang, dia juga mengkreasikan uis dalam bentuk tas, dompet, hingga aksesoris berupa kalung dan gelang.

“Galeri ini lah nantinya menjadi wadah dari hasil kreativitas para penenun kami. Meskipun bukan hanya uis saja yang dihadirkan, namun segala produk tenun, batik Karo, logam atau sertali, juga handycraft. Artinya bukan hanya produk dari Karo semata,” bebernya.

Menariknya untuk menghasilkan karya-karya yang dinamis dan elegan, Ave menggandeng 30 pene nun yang berada di Simalungun, Samosir dan Kabanjahe. Hampir semuanya adalah perempuan. Khusus untuk penenun yang tinggal permanen di galerinya, Ave menggandeng tujuh pe nenun.

Diakuinya polemik tentang pene nun asal Simalungun ini sempat menyurutkan semangatnya, namun sisi lain, dia bilang, ada puluhan orang yang mencari nafkah dari uis, jadi bukankah ini merupakan hal yang berkah bagi semua orang.
“Paling tidak orang yang tidak tahu menjadi tahu, orang yang telah tahu semakin tahu, bahwa kita memiliki kekayaan budaya yang luar biasa,” ungkap perempuan berambut panjang ini.

Banyak pelanggan yang menikmati setiap produk yang dipajang. Bera gam uis pun Ave jejerkan dengan corak dan motif yang beragam. Warna terang yang muncul dari garis-garis detil motif kain itu menghasilkan warna kontras.

Menurutnya warna ini menjadi pertanda kebahagiaan. Selain memajang uis yang masih berupa kain asli, Ave juga memajang beberapa produk hasil kreasinya. Persis yang dia sebutkan di atas tadi, seperti tas, dompet, aksesoris, ge lang dan kalung.

Diakui Ave, produk-produk lokal Indonesia, tak kalah dari produk asal luar negeri. Hanya saja katanya, pengusaha lokal terkendala dengan ongkos pemasaran. Namun syukurnya, sekarang itu tak lagi menjadi kendala utama, karena memanfaatkan jaringan sosial media, setiap pelaku usaha sudah bisa memasarkan produknya.

“Saya mencoba menerangkan dan mengedukasi tentang budaya. Kedepannya, saya juga berencana untuk membuat mural dan coffea shop di sini, jadi Rumah Uis bukan sekadar tempat transaksi jual beli kain, namun juga sebagai wadah untuk berdiskusi tentang kekayaan budaya di Sumatera Utara, paling penting tentang uis,” pungkasnya.

Akhirnya atas keberhasilannya memajukan Uis Karo, Tabloid NOVA mengapresiasi dengan memberikan penghargaan salah satu wanita Inspiratif 2017 karena telah mempertahankan budaya tradisional Karo, yakni kain tenun atau uis. Acara yang digelar Tabloid Nova setiap tahun tersebut bertujuan untuk mengapresiasi para perempuan inspiratif sehingga dapat menginspirasi lebih banyak perempuan di Indonesia.

“Saya juga dapat penghargaan dari Cover magazine,” aku wanita berdarah Karo itu.

Reporter: Saut Hutasoit
Editor: Edrinsyah

Related Articles

Stay Connected

2,753FansLike
12,688FollowersFollow
20,700FollowersFollow
2,600FollowersFollow

Latest Articles

%d bloggers like this: