25 C
Medan
Thursday, June 30, 2022
spot_img

Psikolog Anak, Christina Oktavia Hasibuan MPsi

Memahami Kebutuhan Khusus Anak Autis

Christina Oktavia Hasibuan MPsi adalah Psikolog salah satu wanita penggagas berdirinya klinik terapi “Pusat Tumbuh Kembang Anak” terhadap anak berkebutuhan khusus yakni anak-anak autis di Kota Pematangsiantar.

Anak dengan kebutuhan khusus (ABK) dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat atau mangalami gangguan yang tidak akan pernah berhasil di sekolah, sebagaimana anak-anak pada umumnya.

Sesuai dengan kebijakan pemerintah untuk melakukan sosial distancing untuk menghindari terinfeksi virus Korona yang sedang mewabah di penjuru dunia, maka kamipun melakukan wawancara melalui sambungan telepon. Wanita yang disapa Christina ini menceritakan pengalamannya tentang anak autis.

Autisme atau autism spectrum disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan penderita dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Di samping itu, autisme juga menyebabkan gangguan perilaku dan membatasi minat penderitanya.

“Dalam menghadapi anak-anak autisme ini, kami memiliki metode sama seperti menghadapi anak normal pada umumnya, hanya saja kita harus bisa membedakan usia kronologis (usianya sekarang) dengan usia mental. Misalnya usia kronologisnya 11 tahun tapi usia mentalnya 5 tahun. Maka kamipun memperlakukannya seperti anak yang masih berumur 5 tahun itu,” tukasnya.

Christina sudah mendalami ilmu tentang penanganan anak berkebutuhan khusus ini sejak duduk di bangku kuliah tahun 2010. Setelah lulus Sarjana S1, Dia bekerja menjadi tenaga ahli di salah satu pusat terapi untuk ABK di Medan.

“Awalnya, saya tidak tertarik terhadap anak ABK ini. Tapi setelah saya mengalaminya, saya baru mengerti bahwa anak berkebutuhan khusus itu tidak seseram yang dipikirkan kita selama ini. Artinya, ABK ini seperti hutan yang belum terjamah, tapi setelah kita masuk kedalam hutan tersebut, ternyata bagus banget,” ucapnya dengan tertawa.

Menurutnya, gejala atau ciri-ciri anak autis sebenarnya sudah bisa terlihat ketika ia masih bayi, misalnya jarang melakukan kontak mata serta kurang responsif atau tidak tanggap sama sekali ketika namanya dipanggil. Namun, secara umum, gejala autisme biasanya mulai terlihat jelas saat anak menginjak usia 2–4 tahun.

“Salah satu ciri-ciri anak autis adalah sulit bersosialisasi. Anak dengan autisme sering kali terlihat asyik dengan dunianya sendiri, sehingga sulit terhubung dengan orang-orang di sekitarnya. Terkadang anak dengan autisme juga terlihat kurang responsif atau sensitif terhadap perasaannya sendiri atau pun orang lain,” ujar Christina.

Wanita yang menyelesaikan pendidikan Megister S2 Psikolog di Universitas Padjadjaran ini menyarankan, dalam mendiagnosis autisme pada anak, dokter akan mengevaluasi tumbuh kembang anak, seperti menilai kemampuan berbicara, berperilaku, belajar, hingga pergerakan anak. Dokter juga mungkin akan menyarankan pemeriksaan lain berupa tes pendengaran, tes genetik dan konsultasi psikolog anak.

Bahkan, dari sekian banyak gangguan kesehatan yang mungkin terjadi pada anak, autisme adalah salah satu hal yang paling membuat orang tua khawatir. Malahan ada keluarga yang sengaja menyembunyikan anaknya yang berkebutuhan khusus, karena mereka malu.

“Memang tidak mudah berkomunikasi dengan anak yang menderita autis. Namun, dukungan orangtuanya dan orang-orang di lingkungan sekitar tentu sangat berarti baginya. Inilah tujuan terapi yang kami terapkan pada anak autis yang datang ke klinik terapi kami, untuk membantu anak tersebut agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, serta mampu hidup mandiri ketika ia dewasa nanti,” ungkapnya.

Di tengah pandemi virus korona, klinik terapi untuk anak-anak ABK dihentikan untuk sementara ini. Tetapi Christina masih bisa beraktivitas dari rumah. Ia beserta teman teman yang ada di yayasan serupa menggalang dana untuk membantu dalam penyediaan masker dan hand sanitizer, selanjutnya juga akan membuat alat pelindung diri (APD) kepada para petugas medis. “Dalam pembuatan masker dan APD nantinya, kami akan bekerjasama dengan ABK tuna rungu, yang memiliki keterampilan menjahit,” katanya.

Penulis : Yetti
Editor : Jelita Damanik

Related Articles

Stay Connected

2,753FansLike
12,688FollowersFollow
20,700FollowersFollow
2,600FollowersFollow

Latest Articles

%d bloggers like this: