Tak Tahan Dipukuli Suami, Anita yang Sedang Hamil Lari dari Jakarta

Mediasi antara anita (baju hitam) dan Kana (kepala pelontos) di Kantor Lurah Sari Rejo, Rabu (13/1/21).(foto:iskandar/mistar).

Medan, MISTAR.ID

Meski sedang dalam keadaan hamil, tidak menyurutkan tekad Anita (29) untuk meninggalkan suaminya Kana (39) di Jakarta dan pulang ke rumah orang tuanya di Medan.

Kepada orangtuanya, Anita mengaku tak tahan sering dipukuli oleh suaminya itu. Kisah pelarian ini terjadi Januari 2019 lalu. Kini sang bayi perempuan yang dikandung Anita saat pelarian itu sudah berumur satu tahun lebih.

Belakangan, Kana yang ringan tangan selama perkawinan, justru memohon istri dan anaknya untuk kembali. Namun sang istri menolak. Kana kemudian melapor ke Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (P3APM) Kota Medan.

Baca Juga: Menghilang Usai Pukul Istri, Suami Diciduk Polisi

Namun, Anita dan keluarganya bersikukuh rumahtangga Anita dan Kana tidak bisa dilanjutkan. Anita mengaku trauma karena sering dipukuli. “Apa yang dibuatnya selalu salah di mata suaminya. Suaminya ini suka mukul,” kata Sami, ayah Anita di sela mediasi oleh Dinas P3APM dan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Medan, Rabu (13/1/21) di Kantor Lurah Sari Rejo.

Sami mengatakan, anaknya sudah tak ingin melanjutkan perkawinan yang sudah 4 tahun dibina mereka karena perlakuan kasar yang kerap dialaminya. “Bayangkan, kalau suaminya baik-baik, gak mungkin anak saya lari dalam keadaan hamil dari Jakarta pulang ke rumah saya,” tegas warga Sari Rejo, Medan Polonia ini.

Kepala Seksi Perlindungan Hak Perempuan Dinas P3APM Kota Medan Watini Sari Dewi SH MH mengatakan, dalam laporannya Kana mengaku ingin bertemu anaknya namun tidak diberi kesempatan. Mendapat laporan itu, mereka kemudian berupaya melakukan mediasi antara kedua belah pihak. Mediasi pertama lalu sempat tidak dihadiri keduanya.

Baca Juga: Pemakaman Alex Panjaitan Disambut Isak Tangis Calon Istri dan Anggota DPRD Siantar

Menurutnya, meski mendapat laporan dari Kana, mereka tidak pada posisi membela salah satu pihak. “Kami ini pada dasarnya mencarikan solusi terbaik pada rumah tangga yang bermasalah seperti ini. Kalau mereka bisa balik lagi kan baik,” kata dia.

Menurut dia, Kana memiliki hak untuk bertemu sang anak apalagi keduanya masih berstatus suami dan istri. Namun karena alasan trauma, Anita menolak untuk bertemu Kana. “Aneh juga. Menurut suaminya, dia tidak suka mukul istrinya. Paling kalau berantam, dia hancuri barang. Itu menurut suaminya,” lanjutnya.

Setelah beberapa saat dalam situasi yang menghangat, para keluarga yang hadir dalam ruang mediasi lalu diminta untuk meninggalkan Anita dan Kana dalam ruangan itu. Dengan didampingi seorang psikolog, keduanya diarahkan untuk saling terbuka membicarakan masalah mereka. Namun, kedua belah pihak masih bersikukuh pada keinginannya masing-masing. (iskandar/hm02).