Laura Tias Avionita Sinaga, Memperkenalkan Budaya Simalungun Lewat Tarian

Laura Tias Avionita Sinaga saat atraksi tarian Simalungun di tepi pantai Tigaras, Perairan Danau Toba.(foto:ist/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Tangan-tangan dan jemari lentik nan gemulai mengikuti hentakan irama musik, bergerak indah dihiasi senyuman dari atas panggung. Para penonton pun terkesima bagai terhipnotis, menikmati seni tari yang dimainkan. Mereka yang tampil dengan polesan make-up yang menawan, telah menghadirkan nilai estetika penampilan para penari.

Begitulah Laura Tias Avionita Sinaga memperkenalkan tarian di hadapan para tamu yang menikmati tarian Simalungun. Ia selalu ingin memberikan penampilan yang perfect agar terlihat sempurna. Tak ingin ada kekurangan di balik penampilan anak didiknya dalam menarikan tarian Simalungun, walaupun hanya sekedar senyuman. Bahkan, untuk sebuah penampilan yang spektakuler, Laura tidak sungkan mengeluarkan uangnya membayar aransemen musik bagi pegelaran tarian mereka.

Dijumpai di kediamnnya jalan Teratai, Rambung Merah Kabupaten Simalungun, Laura sedang asik bercengkrama dengan siswa-siswinya. Perempuan yang berusia 23 tahun ini adalah pengelola sanggar tari Sihoda. Sanggar tari ini memang khusus untuk tarian Simalungun.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Songgot-songgot Di Budaya Batak

Meski tidak sempat menamatkan sekolah Seni Tari di Unimed, namun Laura begitu menekuni seni tari ini dengan baik. Tidak heran bila banyak festival yang mereka ikuti hingga ke luar kota seperti Sumenep dan Surabaya. Tak jarang ia diundang untuk melatih pelajar maupun mahasiswa untuk kegiatan sekolah semisal perpisahan maupun untuk acara wisuda.

“Tarian memang sudah menjadi jiwa saya. Saya ingin mengembangkan dan memperkenalkan budaya Simalungun lewat tarian,” ujar perempuan yang sempat putus asa ketika peristiwa kecelakaan yang menyebabkan sebagian tubuhnya nyaris tidak bisa difungsikan. Tetapi kepercayaan orang-orang terdekat dan anak didiknyalah yang membangkitkan semangatnya untuk kembali menghidupkan sanggar Sihoda.

Tahun 2017, Laura nekat membuat pagelaran seni budaya Simalungun di Kota Pematangsiantar dengan menghabiskan anggaran Rp100 juta. Pagelaran yang mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit itu akhirnya sukses mereka laksanakan, meskipun tidak mendapat suport penuh dari pemerintah.

Baca Juga: Judul Ranperda Siantar Tentang Pelestarian Cagar Budaya Berubah

“Untuk memenuhi kekurangan anggaran kami ngamen tarian di jalanan selama satu bulan,” ujar Laura. Itu sebabnya ia tidak banyak berharap dari pemerintah setempat untuk mengembangkan budaya Simalungun lewat tarian. “Kami mengalir saja, alhamdulillah selalu ada jalan,” ujarnya.

Tahun 2018, Sanggar Tari Sihoda diundang ke Sumenep dalam acara festival Keraton Masyarakat Adat Asean. Di sini mereka membawa nama 7 nama kerajaan Simalungun. Di kesempatan ini Laura juga ikut melatih tarian kepada 60 pelajar di Sumenep.

Saat ini Sanggar Sihoda sudah memiliki program Tahunan bernama Rap Manortor Simalungun (RMS). Program ini sudah berjalan 3 kali. RMS pertama diselenggarakan di kampus Nomensen, RMS kedua lomba tari, dan RMS ke tiga manortor di Bukit Indah Simarjarunjung.

Baca Juga: Disparbud Gelar Pelatihan Warisan Budaya Simalungun

Sanggar tari Sihoda kini mulai cukup dikenal di masyarakat. Banyak yang meminta kelompok tari mereka untuk ikut menghibur seperti hajatan pesta perkawinan adat batak, seperti menyambut pengantin, mangolusi dan lainnya. Bahkan setiap pekan ada saja job yang harus mereka isi.

“Bahkan dalam pekan ini Sanggar tari Sihoda bisa diundang di 3 tempat. Itu sebabnya grub tari kita bagi,” ujar Laura.

Untuk belajar tari daerah khususnya Simalungun di Sanggar Sihoda, Laura tidak pernah memungut bayaran. Yang terpenting baginya, ada generasi penerus yang mau belajar tari daerah Simalungun. Saat ini ada 40 lebih anak-anak yang ikut belajar tari di Sanggar Sihoda. Sayangnya, di Kota Pematangsiantar tidak ada taman budaya yang bisa dijadikan tempat mereka belajar tari.

Sehingga mereka harus membayar tempat di Museum setiap kali mereka berlatih. Laura berharap Pemerintah Kota Pematangsiantar mampu mendirikan Taman Budaya yang bisa dijadikan wadah bagi para seniman yang ingin mengembakan budaya Simalungun serta sebagai wadah kreatifitas bagi anak dan remaja.(rika/hm02)