Rupiah Pagi Ini Bergerak di Kisaran Rp14.707 Hingga Rp14.730 Per USD

Ilustrasi.(f:gomtobing/mistar)

Jakarta, MISTAR.ID

Mata uang Garuda kembali sukses menghantam mata uang Paman Sam seiring hadirnya katalis positif di Tanah Air terkait ketersediaan obat dan vaksin covid-19. Maka, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu pagi ini, terpantau menguat ketimbang hari sebelumnya di posisi Rp14.725 per USD.

Mengutip Bloomberg, Rabu, 14 Oktober 2020, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka menguat ke Rp14.707 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.707 hingga Rp14.730 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.549 per USD.

Sementara itu, kurs dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu WIB). Hal itu terjadi ketika investor berhati-hati setelah penelitian covid-19 dari Johnson & Johnson (J&J) dihentikan sementara, serta harapan meredup bahwa paket stimulus fiskal AS dapat dicapai sebelum pemilihan presiden.

Indeks-indeks ekuitas utama lebih rendah, sebagian karena penurunan saham J&J setelah perusahaan menghentikan penelitiannya karena penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada partisipan, mengurangi optimisme tentang vaksin.

Baca juga: Emas Batangan Antam 2 Gram Dibanderol Rp2.048.000, Ini Daftar Harganya

Harga konsumen AS naik 0,2 persen pada September, sesuai dengan ekspektasi, merupakan kenaikan bulanan keempat berturut-turut, meskipun laju tersebut telah melambat di tengah kelesuan cukup besar dalam ekonomi karena pemulihan perlahan dari titik nadir yang disebabkan oleh penutupan virus corona.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,528 persen, menempatkannya di jalur untuk persentase kenaikan harian terbesar dalam tiga minggu.

Daya tarik safe haven mata uang AS telah dibatasi dengan meningkatnya ekspektasi bahwa kemenangan mantan Wakil Presiden AS Joe Biden pada 3 November akan membawa stimulus besar bagi ekonomi yang dilanda pandemi. Sehingga memperkuat pasar saham dan selera risiko investor.

“Ini menjadi semakin jelas bagi orang-orang bahwa tidak ada stimulus sebelum pemilihan. Saya tidak akan mengatakan pasar sepenuhnya mempertimbangkan stimulus atau sepenuhnya mempertimbangkan vaksin pada akhir tahun, tetapi mereka mungkin condong ke sisi yang lebih positif dari ekspektasi tersebut,” kata Erik Nelson, ahli strategi mata uang di Wells Fargo.(medcom/hm07)