Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Melemah, Ini Pemicunya

Tanda-tanda depresiasi rupiah sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market
Ilustrasi rupiah melemah.(f:gom tobing/mistar)

Jakarta, Mistar

Kebijakan Bank Sentral China (PBoC) membuat dolar AS menguat, sehingga rupiah ikut kena getahnya. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah di perdagangan pasar spot pagi ini.

Pada Selasa (13/10/20), US$ 1 setara dengan Rp14.670 kala pembukaan pasar spot. Rupiah menguat tipis 0,07% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Namun tidak lama kemudian rupiah masuk jalur merah. Pada pukul 09:08 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.720 di mana rupiah melemah 0,27%. Tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang utama Asia pun tidak berdaya di hadapan dolar AS.

Tidak cuma di Asia, mata uang Negeri Paman Sam pun berjaya di tataran global. Pada pukul 07:39 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,06%. Apa yang membuat dolar AS begitu perkasa? Salah satunya adalah kebijakan terbaru dari China.

Baca juga: Rupee India Naik, Rupiah Indonesia Anjlok 4%

Mulai kemarin, PBoC memangkas Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan bahkan sampai 0%. Namun ini memang bukan GWM biasa, tetapi GWM yang dicadangkan saat bank bertransaksi forwards di pasar valas. Selama ini GWM untuk transaksi forwards di pasar valas ditetapkan sebesar 20%.

Pelonggaran GWM ini membuat likuiditas mata uang yuan di pasar membanjir. Yuan pun jadi melemah di hadapan berbagai mata uang, terutama dolar AS sebagai negara mitra dagang utama. Penguatan dolar AS kemudian meluas (broadband) ke mata uang lain di Asia, tidak terkecuali Indonesia.

Selain itu, investor juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) periode Oktober 2020. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan BI 7 Day Reverse Repo Rate bertahan di 4%.

Adalah rupiah yang akan membuat MH Tharmrin ragu-ragu menurunkan suku bunga acuan. Mata uang Tanah Air memang cenderung menguat akhir-akhir ini. Namun itu terjadi setelah melalui kuartal III-2020 yang ‘berdarah-darah.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Pada Dolar AS Anjlok

Selama Juli-September 2020, rupiah ambles 4,65% di hadapan dolar AS. Rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Jika BI betul-betul mempertahankan suku bunga acuan, maka imbalan berinvestasi di Indonesia akan tetap terjaga, terutama di instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi.

Saat ini imbal hasil (yield) obligasi pemerintah seri acuan tenor 10 tahun berada di 6,899%. Inflasi domestik per September ada di 1,42% year-on-year/YoY. Artinya keuntungan riil berinvestasi di SBN 10 tahun adalah 5,479%.

Coba bandingkan dengan negara-negara dengan kelas yang sama (peers). Yield obligasi pemerintah India tenor 10 tahun adalah 5,899% dan inflasi September mencapai 7,43% YoY. Jadi keuntungan riil berinvestasi di instrumen ini adalah -1,531%, bukannya untung malah buntung.

Kemudian misalnya Turki. Yield surat utang pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk yang tenor 10 tahun adalah 13,31%, jauh lebih tinggi ketimbang Indonesia. Namun inflasi di sana mencapai 11,75% YoY per September 2020. Jadi keuntungan riil yang diterima investor hanya 1,56%, jauh di bawah Indonesia.

Baca juga: Asyik! Rupiah Menguat Terhadap Dolar

Daya tarik investasi Indonesia yang tinggi akan membuat arus modal asing tetap berdatangan, dan itu bisa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kalau BI menurunkan suku bunga, maka imbal hasil di Surat Berharga Negara (SBN) juga akan ikut turun sehingga kurang menarik dan investor pun menjaga jarak. Nasib rupiah bakal terancam.

Jadi kalau BI menahan suku bunga acuan, maka dampaknya akan positif terhadap rupiah. Akan tetapi bagi ekonomi yang sedang dilanda resesi, tentu ini bukan sebuah kabar gembira.(cnbc/hm07)