spot_img

Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu dan Tempe Terpaksa Perkecil Ukuran

Pematang Siantar, MISTAR.ID

Harga kacang kedelai di Kota Pematang Siantar kini mulai merangkak naik. Naiknya harga bahan baku tahu dan tempe tersebut, membuat pengusaha tahu dan tempe jadi kelimpungan. Pasalnya, meski harga bahan baku tersebut naik namun mereka tidak bisa serta merta menaikkan harga tahu dan tempe. Kondisi ini membuat mereka terancam merugi.

Bahkan kenaikan harga kacang kedelai terus mengalami peningkatan. Terpantau hingga kini harga kedelai diangka Rp14.200 per kilogram, naik secara bertahap dari harga sebelumnya Rp6.500 per kilogramnya.

Salah satu pengusaha Tahu di Jalan Singosari, Gang Demak, Kelurahan Martoba, Siantar Utara, Pematang Siantar, Sulisti (44), menjelaskan, dengan harga kedelai yang mencapai Rp14.000 an per-kilogram, pihaknya terpaksa mengurangi produksinya dan mengecilkan ukuran tahu.

“Untuk sementara kami kurangi produksi tahu dan sedikit memperkecil ukurannya. Sebab, tidak mungkin kami menaikkan harga secara mendadak. Sebab harga kedelai tidak pasti,” kata Sulisti, saat dijumpai dikediamannya, Rabu (23/11/22).

Baca juga:Stok Menipis Bikin Harga Kacang Kedelai di Sumut Terdongkrak Naik

Menurutnya keputusan tersebut dilakukan agar omset yang didapatkan tidak mengalami penurunan terus menerus. Mengingat harga kedelai import yang terus melambung hingga menyentuh Rp14 ribu lebih per kilogram.

Sejak harga kedelai mengalami kenaikan yang cukup signifikan, sebut Sulisti, banyak merek – merek baru kacang kedelai yang bermunculan dengan harga yang beranekaragam. Maka dari itu, apabila membeli kacang kedelai, harus benar-benar teliti.

“Jenis ataupun merek Kacang kedelai ini banyak, tapi kwalitasnya berbeda-beda. Pintar-pintar kita untuk memilih. Contohnya, kami pernah beli merek yang tidak biasanya dengan harga murah. Ternyata kwalitasnya tidak bagus. Hasil tahu yang dicetak malah makin jelek dan hancur,” ungkapnya.

Dikatakannya, dalam sehari pihaknya bisa menghabiskan hampir 50 kilogram kacang kedelai. Tetapi, sejak adanya kenaikan tersebut, ia tidak pernah membuat stok banyak, karena keuntungan yang diperoleh tidak sebanyak waktu sebelum naik harga kacang tersebut.

Kenapa tidak menggunakan bahan baku kacang kedelai lokal yang harganya masih terjangkau??

“Kwalitas dari pada kacang kedelai lokal kurang bagus. Kami pernah coba, kwalitasnya sangat jelek. Pati kacang kedelai lokal sangat sedikit dan kurang bagus untuk tahu. Hasilnya nanti, tahu jadi pecah-pecah, dan tak tahan lama,” jelas wanita yang merupakan generasi kedua dalam meneruskan usaha tahu milik mertuanya ini.

Tak jauh beda dengan Rama, perajin tempe yang lokasinya sama dengan Sulisti. Dia mengatakan mengecilkan ukuran tempe yang diproduksinya, terpaksa dilakukan. Mengingat harga kacang kedelai yang biasa ia beli naik hingga 100 persen.

“Kami itu biasanya beli kacang kedelai dari Pasar Horas ataupun Dwikora seharga Rp650.000 satu kwintal atau 100 kilogram. Kini, naik menjadi Rp1.420.000,” tukas Rama.

Akibatnya, terang Rama, pihaknya terpaksa mengecilkan ukuran tempe untuk meminimalisir kerugian. Ia juga mengaku saat ini omzetnya berkurang dan memaksa dirinya untuk mengurangi ukuran setiap tempe yang diproduksinya.

“Meski begitu, kami tetap menjaga kwalitas tempe yang kami buat. Alhamdulillah, Konsumen yang biasanya beli pada kami, juga tidak keberatan walaupun ukurannya berkurang sedikit, tapi rasanya tetap sama seperti sebelum-sebelumnya,” kata Rama.

Ketika ditanya tentang kelancaran pasokan bahan baku kacang kedelai import tersebut, Rama menjawab tidak ada masalah. Pasokan kedelai impor selalu tersedia di toko tempat dia biasanya membeli.

“Kami berharap kepada pemerintah untuk memberikan solusi terbaik terhadap naiknya harga kedelai ini. Agar pengrajin yang membutuhkan bahan baku kacang kedelai dapat menjalankan usahanya dengan normal seperti dulu,”harap Rama. (yetty/hm06)

 

Related Articles

Stay Connected

2,753FansLike
12,688FollowersFollow
20,700FollowersFollow
2,600FollowersFollow

Latest Articles

%d bloggers like this: