25 C
Medan
Tuesday, September 28, 2021
spot_img

Dolar Bertahan Ketat di Asia, Investor Tunggu Data Inflasi AS

Tokyo, MISTAR.ID
Dolar sedikit mengalami perubahan terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya di perdagangan Asia pada Selasa pagi. Hal ini dikarenakan investor menunggu data inflasi AS di sesi ini untuk petunjuk tentang waktu pengetatan kebijakan oleh Federal Reserve (Fed).

Indeks dolar berdiri di 92,622, setelah mundur dari tertinggi dua minggu di 92,887 yang dicapai sebelumnya pada Senin (13/9/21), sementara euro berpindah tangan di 1,18105 dolar, setelah bangkit kembali dari terendah Senin (13/9/21) di 1,17705 dolar, terendah sejak 27 Agustus.

Fokus langsung adalah pada data harga-harga konsumen AS yang akan dirilis pada pukul 12.30 GMT.

Baca juga: Dolar AS Ditinggalkan 6 Negara Asia Termasuk Indonesia

Para ekonom memperkirakan IHK inti, indeks yang mengecualikan harga energi dan makanan yang bergejolak, telah naik 0,3 persen pada Agustus dari Juli. Inflasi tahunan diperkirakan sedikit berkurang menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen pada Juli.

Inflasi Harga Konsumen (IHK) secara keseluruhan diperkirakan akan sedikit turun menjadi 5,3 persen dari 5,4 persen pada Juli.

“Dengan IHK inti yang masih terlihat di atas 4 persen, inflasi berada pada level yang sangat tidak normal. Powell (Ketua Fed) telah mengatakan inflasi akan bersifat sementara sejak Maret tetapi The Fed mungkin harus menyesuaikan kata-katanya dalam pernyataan kebijakan berikutnya,” kata Ahli Strategi Senior Daiwa Securities, Yukio Ishizuki.

The Fed akan mengadakan pertemuan kebijakan minggu depan. The Wall Street Journal melaporkan pada Jumat (10/9/21) bahwa pejabat Fed akan mencari kesepakatan untuk mulai mengurangi pembelian obligasi pada November.

“Tapering tahun ini sudah deal. Pertanyaan berikutnya adalah apakah Fed akan menaikkan suku bunga tahun depan. Mengingat inflasi terus berlanjut, The Fed mungkin tidak bisa terlalu lama bersantai tentang hal itu,” kata Ishizuki.

Yen sedikit melemah menjadi 110,005 yen terhadap dolar tetapi tetap berada di wilayahnya selama beberapa minggu terakhir di sekitar 110.

Pergerakan terbatas dalam pasangan mata uang tersebut, diperkirakan mendorong pedagang mengurangi ekspektasi untuk ayunan pasar.

Volatilitas tersirat pada opsi dolar/yen telah jatuh ke level historis, dengan volatilitas satu bulan jatuh ke level 4,625 persen, terendah sejak Februari tahun lalu tepat sebelum pandemi.

Mata uang sensitif risiko sedikit bergerak untuk saat ini, dengan sterling di 1,3836 dolar dan dolar Australia di 0,7362 dolar.

Sementara pasar saham dunia berada di dekat rekor tertinggi, mendukung sentimen risiko, beberapa analis memperingatkan meningkatnya hambatan terhadap sentimen risiko.

“Selera risiko global bergerak menuju fase yang lebih lemah dan gelisah. G2 (AS-China) yang sumbang semakin menjadi masalah,” kata Ahli Strategi Makro Deutsche Bank, Alan Ruskin, di New York.

Baca juga: Sah! Tinggalkan Dolar AS, Transaksi Perdagangan RI-China Resmi Pakai Yuan

“Perselisihan perdagangan AS-China belum menemukan penyelesaian apa pun. Sebaliknya, kekuatan pasar mendominasi target kuantitas, dan pelebaran keseimbangan bilateral akan kembali menjadi sumber ketegangan,” tambahnya.

Banyak investor juga mengawasi perkembangan di China, di mana pengembang properti yang kekurangan uang Evergrande berjuang untuk menangkis kekhawatiran solvabilitas, sementara gelombang langkah regulasi tanpa henti oleh Beijing menghantam perusahaan teknologi besar.

Di pasar kripto, Bitcoin turun ke level 43.400 dolar, terendah dalam hampir seminggu dan terakhir berada di 44.973 dolar sementara Ether juga turun ke 3.283 dolar. (antara/hm06)

Related Articles

Stay Connected

2,753FansLike
12,688FollowersFollow
18,100FollowersFollow
2,600FollowersFollow

Latest Articles

%d bloggers like this: