Daya Beli Turun dan Ekspor Melambat, Perekonomian Sumut Kontraksi Lebih Dalam

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Soekowardojo (tengah) didampingi Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut Andiwiana Septonarwanto dan Ibrahim, saat memberikan pemaparan pada media, Selasa (23/2/21). (f:ist/mistar)

Medan, MISTAR.ID

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) pada tahun 2020 mengalami kontraksi yang cukup dalam -1,07% (yoy) dibandingkan tahun 2019 sebesar 5,22% (yoy), terutama didorong penurunan permintaan akibat terbatasnya daya beli masyarakat dan juga ekspor yang melambat.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumut, Soekowardojo, belanja pemerintah yang tertunda turut berdampak pada penurunan sisi permintaan dan sisi penawaran, terutama LU konstruksi. “Di sisi lain, meski LU Pertanian tidak begitu terdampak akibat Covid-19, namun penurunan produktivitas tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan tahunan menyebabkan rendahnya pertumbuhan sektor ini,” sebutnya didampingi Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut Andiwiana Septonarwanto dan Ibrahim, Selasa (23/2/21).

Bila dilihat dari sisi permintaan secara yoy (2019 ke 2020), Soekowardojo menuturkan konsumsi rumah tangga dari 4,45 persen menurun jadi 2,98 persen. Hal ini karena peningkatan konfirmasi Covid-19 sehingga masyarakat menahan konsumsi dan cenderung untuk berjaga-jaga di tengah ketidakpastian pada masa pandemi.

Baca Juga:Meski Terdampak Pandemi, Pertumbuhan Ekonomi Sumut Masih Lebih Baik

“Bila dilihat dari ekspor sendiri secara yoy -2,17 persen menurun menjadi -10,36 persen. Hal ini karena penurunan jumlah wisata mancanegara yang masuk ke Sumut dan permintaan ekspor yang masih belum sepenuhnya pulih dan terbatasnya container,” jelasnya.

Sementara itu, pertumbuhan perekonomian triwulan I tahun 2021 diproyeksikan lebih tinggi dari triwulan sebelumnya. Penanganan pandemi yang semakin baik serta keberhasilan uji coba vaksin menjadi titik terang pemulihan ekonomi sejak awal tahun 2021.

Dari sisi permintaan, perbaikan ekonomi bersumber dari permintaan ekspor, konsumsi rumah tangga, dan konsumsi pemerintah. Perbaikan ekspor sejalan dengan pulihnya ekonomi mitra dagang utama menyusul implementasi program vaksin di berbagai belahan dunia.

Baca Juga:Diprediksi Negatif, Pertumbuhan Ekonomi Sumut di Kuartal Keempat

“Investasi juga diperkirakan meningkat karena pelaku usaha lebih optimis merespon konsumsi rumah tangga yang membaik, diperkuat dengan akan diterbitkannya peraturan pelaksanaan dari UU CK yang akan memberikan kepastian bagi dunia usaha. Dan, kalau kita lihat dari sisi lapangan usaha juga akan membaik di bulan pertama ini,” terangnya.

Sedangkan untuk inflasi, menurutnya, awal tahun memang menurun. Tapi di 2021 diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan tahun 2020. Hal ini karena meningkatnya permintaan masyarakat dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik karena vaksinasi yang diharapkan berhasil. “Ekonomi global juga membaik. Sehingga ekspor akan meningkat itu akan menambah giat ekonomi kita,” pungkasnya. (anita/hm12)